Kepsek SMAN 3 Medan Perluas Kerja Sama Global, Siswa Berpeluang Kuliah Gratis ke Luar Negeri
SMAN 3 Medan semakin memantapkan langkah menuju pendidikan berwawasan global. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Susianto, S.Pd., M.Si., sekolah ini aktif menjalin kerja sama internasional guna membuka peluang bagi siswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke universitas luar negeri secara gratis.
Berbekal pengalaman memimpin lembaga pendidikan di luar negeri, Susianto membuka jalur konkret bagi siswanya. Hingga saat ini, lima siswa SMAN 3 Medan telah memperoleh beasiswa penuh ke luar negeri, masing-masing tiga siswa ke Tiongkok dan dua siswa ke Malaysia.
“Seluruh kebutuhan ditanggung, mulai dari keberangkatan, biaya hidup, uang kuliah, hingga uang saku. Saat ini kami juga tengah menggalang kerja sama dengan Turki dan Singapura agar anak-anak kita semakin memiliki wawasan internasional,” ujar Susianto di ruang kerjanya, Rabu (4/2/2026).
Susianto yang merupakan lulusan Magister Universitas Sumatera Utara (USU) mengungkapkan, pengalamannya selama empat tahun menjabat sebagai Kepala Sekolah di lingkungan KBRI Thailand menjadi bekal penting dalam membangun visi global di SMAN 3 Medan.
“Saya menanamkan slogan berwawasan global dengan pengalaman lokal. Berprestasi di tingkat lokal itu penting, tetapi kita harus berani terbang lebih tinggi. Kompetisi kita bukan hanya di dalam negeri, melainkan di tingkat internasional,” tegasnya.
belum lama ini perwakilan yayasan pengelola beasiswa dari Jepang telah berkunjung ke SMAN 3 Medan. Pihak tersebut tertarik mengadakan presentasi sekaligus menyusun kriteria siswa yang berpeluang melanjutkan studi ke Jepang.
“Tahun ini kami optimistis bisa mengirim siswa ke Jepang,” tambahnya.
Dalam upaya memaksimalkan potensi peserta didik, SMAN 3 Medan menerapkan strategi akademik terstruktur dengan membagi siswa ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah siswa berprestasi akademik, kelompok kedua siswa yang berpotensi masuk sekolah kedinasan, dan kelompok ketiga siswa dengan minat kewirausahaan dan bidang humaniora.
“Materi pembelajaran tetap sama sesuai kurikulum nasional. Pengelompokan ini berbasis bakat dan minat. Pada semester pertama, siswa baru mengikuti psikotes yang melibatkan psikolog profesional agar sekolah memiliki referensi objektif,” jelas Susianto.
Pengelompokan tersebut bersifat dinamis dan tidak mutlak. Siswa dapat berpindah kelompok sesuai perkembangan prestasi akademik maupun nonakademik.
“Kami hanya memberikan alur dan pendampingan. Dalam praktiknya, banyak siswa yang berkembang dan berpindah kelompok. Strategi ini terbukti efektif dan terus kami evaluasi,” ungkapnya.
Susianto juga menyampaikan bahwa jumlah lulusan SMAN 3 Medan yang diterima melalui jalur undangan perguruan tinggi negeri tergolong tinggi di Kota Medan. Setiap tahun, rata-rata 23–25 siswa diterima di UGM, dua di UNDIP, empat di IPB, dan 17 di USU.
“Sekitar 60 hingga 65 persen lulusan kami melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Pulau Jawa, sisanya di wilayah Sumatera Utara,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi antara pendampingan siswa, pengelompokan yang tepat, serta kualitas guru yang terus ditingkatkan.
